A Boy and A Butterfly

Suatu hr ada seorang anak laki² sdg memperhatikan seekor kepompong..

Ternyata didalmnya ada kupu² yg sdg berjuang utk melepaskan diri dari dalam kepompong dan Kelihatannya begitu sulitnya.

Si anak laki2 tsb merasa kasihan pada kupu2 tsb dan berpikir cara utk membantu si kupu2 agar bisa keluar dg mudah.

Akhirnya si anak laki2 tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu2 bisa segera keluar dari sana.

Alangkah senang dan leganya si anak laki2 tsb.

Tetapi apa yang terjadi ???? :O

Si kupu2 memang bisa keluar dari sana, Tetapi Kupu2 tsb tidak dapat terbang,hanya dpt merayap.

Apa sebabnya??? Ternyata bagi seekor kupu2 yg sdg berjuang dari kepompongnya tsb, yg mana pd saat dia mengerahkan seluruh tenaganya,

Ada suatu cairan didlm tubuhnya yg mengalir dg kuat ke seluruh tubuhnya yg membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang,

tetapi krn tdk ada lg perjuangan tsb maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu2 yg hanya dapat merayap.

Kadangkala good intention, niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yg baik.

Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita.

Kadangkala kita sering membantu mereka krn kasihan atau rasa sayang, tp sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri.

Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang.

Memandulkan kreativitas, karena kita tdk tega melihat mereka mengalami kesulitan, yg sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya, justru menjadi KUAT.

Demikian jg pd saat kita sedang hrs berjuang menghadapi sesuatu, jangan mengharapkan bantuan orang lain,berjuanglah dahulu dengan mengerahkan segala kemampuanmu.

Hidup penuh dgn PERJUANGAN.

Sering kali juga kita sering menyalahkan situasi yang kita hadapi,tp ternyata situasilah yang mendewasakan kita !♥:)

Iklan

Open Your Mind

Open Your Mind

Oleh: Rhenald Kasali

* SUATU ketika seorang mahasiswa tingkat undergraduate mengetuk ruang kerja saya di Bevier Hall- University of Illinois, Amerika Serikat (AS). Sebagai teaching assistant di kampus itu, saya bertugas menggantikan seorang profesor yang mengajar mata kuliah consumer economics. Selain mengajar, saya juga membuat sebagian soal ujian dan memeriksanya. Dengan mimik penuh percaya diri, dia menyampaikan masalahnya. Dia menunjuk lembar jawaban soal yang terdiri atas pilihan berganda (multiple choice) yang baru saja dia terima.Nilai yang dia dapat tidak terlalu jelek,tetapi dia kurang puas dan mengajak saya berdiskusi, khusus pada sebuah soal yang dianggapnya terbuka untuk didiskusikan. Setelah membacanya kembali, tiba-tiba saya tersadar, soalnya memang konyol sekali. Pertanyaannya kurang lebih seperti ini. “Berapa lama rata-rata rumah tangga menggunakan handuk mandi?” Tentu saja setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Namun karena mata kuliah ini didasarkan atas hasil riset, maka mahasiswa harus menguasai dasardasar perilaku konsumen yang datanya diperoleh secara riil dari riset. Jawabannya semua ada di buku teks. Jadi kalau buku dibaca atau bahan kuliah dipelototi, pasti mereka mudah menemukan jawabannya. Di buku teks jawaban tertulis, rata-rata rumah tangga mengonsumsi handuk selama delapan tahun. Dia memilih jawaban dua tahun.Tentu saja saya mencoretnya.

Bagi seorang guru, menemukan murid seperti ini mungkin biasa saja. Namun cerita berikut ini mungkin dapat mengubah pandangan Anda tentang cara mendidik atau bahkan membimbing orang lain, karyawan,atau bahkan diri sendiri agar berhasil dalam hidup. Kekuatan Argumentasi Mahasiswa saya tadi mengajak saya berdiskusi, “Prof,” ujarnya. “Jawaban ini salah.” Saya mengernyitkan dahi.Maklum, belum pernah saya mendengar seorang mahasiswa di tingkat persiapan berani-beraninya menyalahkan soal, apalagi menyalahkan isi buku. “Maksud saya, setelah saya tanya-tanya ke kiri-kanan, tak ada orang yang menyimpan handuk mandi sampai 8 tahun,”lanjutnya. “Jadi berapa tahun?” tanya saya. “Ya dua tahun.Ini jawaban saya benar,”katanya lagi. Saya pun teringat dengan cara teman-teman saya sewaktu kuliah dulu mengakali dosen yang “lemah”. Dosen seperti itu biasanya gampang diajak kompromi dan kalau kita pintar mengambil hatinya, angka bisa berubah.Maka, di kepala saya,berkompromi bukanlah karakter saya. Berkompromi sama dengan kelemahan, lembek, merendahkan martabat, plinplan. “Jadilah guru yang teguh.” Kalimat itu terus mengalir di hati saya. Kompromi itu jelek, lemah, tidak konsisten, tidak berwibawa. “Ah, kamu ini cuma cari pembenaran saja. Ini justifikasi namanya.Pokoknya jawaban Anda salah. Apa Anda tidak baca buku. Coba buka halaman 40,” ujar saya pada mahasiswa tadi. “Betul,”katanya lagi. “Di buku memang tertulis begitu.Saya tahu.” “Ah, Anda tidak baca saja…,” ujar saya lagi. “Bukan, tetapi ini tidak masuk akal.” Dia mencoba menjelaskan. Namun sebagai orang Indonesia yang terbiasa dididik tanpa kompromi di sekolah, saya mencoba untuk tidak mendengarkan argumentasinya. Saya khawatir wibawa saya terganggu. Dosen kokdidebat. Namun dia tetap menjelaskan panjang lebar bahwa sekarang tidak ada lagi handuk yang seawet itu. Dua tahun sudah rusak.”Dulu sabunnya tidak sekuat yang sekarang, lagipula mana ada produsen yang mau membuat handuk dengan material yang kuat dan harganya mahal? Konsumen memilih yang terjangkau dan produsen memilih barang-barang yang murah.Kalau cepat rusak tak apa-apa,setelah itu beli lagi,”katanya bersemangat. Matanya berbinar menjelaskan gagasannya dan penuh harap saya mau mengubah pendapat saya. Saya masih ingat dia menjelaskan tentang mesin cuci yang dulu tidak dipakai rumah tangga sehingga tidak merusak material. Lama kita berdebat dan sebenarnya saya suka mempunyai peserta didik yang kritis seperti itu. Namun, sebagai guru dari Indonesia, saya tidak suka ditawar-tawar. Ini soal integritas. “Nope,” jawab saya menolak permohonannya agar saya mengoreksi nilainya. Dia pun keluar dengan kecewa. Saya berpikir, urusan pun selesai.

Namun, di luar dugaan, setengah jam kemudian dia kembali lagi. Kali ini dia datang diantar profesor saya.Seperti tak ada masalah sama sekali profesor itu datang dengan penuh senyum. “Rhenald,”ujarnya. “I talk to this guy, and I like his idea.” Sudah tahu arahnya, saya pun segera menukas.”Yes, he did talk to me, and indeed he was wrong. He didn’t give the right answer,” ujar saya. “Saya mengerti,” jawab profesor itu,”Tapi perhatikan ini.Saya suka cara berpikirnya. Dia memang memberi jawaban yang berbeda dengan buku, tetapi argumentasinya kuat dan dia benar.” Singkat cerita, profesor itu meminta saya agar mendengarkannya dan memahami logika anak itu. Kejadian itu sekali lagi telah membuka pikiran saya. Betapa memalukannya otak reptil saya. Guru kok tertutup. Namun, saya beruntung segera menyadari kesalahan saya. Saya belajar bahwa saya menganut nilai-nilai yang salah.Tertutup, tak berkompromi, tegas, teguh, terlalu mengedepankan wibawa hanyalah merupakan bentuk defensif saya sebagai guru yang sebenarnya hanya perwujudan dari rasa takut yang berlebihan saja. Takut dibilang lembek, kompromistis, mudah dirayu, tidak objektif,dan sebagainya.Pendapat yang semula saya tentang kini harus saya terima dan nilai anak itu saya koreksi. Bahkan seperti penjual kacang rebus yang suka menambah kacang ke dalam bungkusan pelanggannya, saya pun memberikan bonus angka kepadanya.

Mendidik adalah lebih dari sekadar menjaga imej. Mendidik adalah proses menjadikan orang lain seorang “master” dan bukan menciptakan pengikut.Yang ingin kita lahirkan adalah manusia yang mampu berpikir,terbuka terhadap logika. Bukan manusia-manusia dogmatik yang hanya mengikuti maunya kita,menulis apa yang kita diktekan, berpendapat apa yang menjadi pikiran kita, dan tak bisa menerima perbedaan pendapat. Malas berpikir. Keluar dari Buku Kisah anak-anak yang tak mampu berpikir di luar buku teks sudah banyak kita saksikan.

Salah satu film yang paling saya suka dan selalu saya pakai untuk mengajari dosen-dosen muda menjadi pendidik adalah potongan film yang dibintangi Julia Roberts berjudul Monalisa Smile. Dalam film itu dikisahkan kesulitan seorang guru yang mengajar karena setiap kali dia menampilkan slide yang diambil dari buku, selalu disambar muridmuridnya yang berebut menjelaskan. Dia benar-benar bingung. Muridnya aktif-aktif dan pintarpintar. Mereka sudah membaca assignment sebelum pelajaran dimulai.Mereka benar-benar telah mempersiapkan diri dengan baik sebelum masuk kelas dengan membaca, membuat ringkasan, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan aktif berbicara. Hari pertama mengajar dia gagal total. Namun minggu berikutnya, setelah merenungi dalam-dalam, dia mendapatkan ide. Kali ini dia mengajak murid-muridnya keluar dari buku teks. Dia menunjukkan slide yang sama sekali baru.Tak ada di buku dan bahan ajarannya sama sekali baru. “Coba lihatlah gambar ini. Apakah ini bagus?” Semua murid tertegun. Gambar itu belum pernah mereka lihat dan tanpa referensi mereka tidak punya acuan sama sekali.Padahal, selama ini mereka hanya mengikuti perintah buku. Gambar itu bagus kalau kalimat di buku berkata gambar itu bagus. Sekarang saat gambar itu tak ada penjelasannya, mereka pun tak berani berpendapat. Mereka saling lihat kirikanan. Seorang yang mencoba menjawab kebingungan. “Apakah ada gambar yang bagus?” “Siapa yang berhak mengatakannya? ” “Sesuatu yang bagus itu akan menjadi bagus tergantung siapa yang mengatakannya. ” Mereka terbelah. Ibu guru pun menjelaskan wisdom-nya. “Look, kalian baru saja keluar dari cara berpikir buku teks,” ujarnya. Dia mengajarkan perihal kehidupan, yaitu berani berpendapat dan membuat keputusan pribadi.

Apa yang dapat dipelajari dari film Monalisa Smile dan kasus yang saya alami saat saya menjadi teaching assistant di University of Illinois dan berhadapan dengan mahasiswa yang minta agar saya mengoreksi jawaban soalnya 15 tahun yang lalu itu? Benar! Kita adalah manusia dan tugas guru adalah mendidik manusia,memerdekaka nnya dari segala tekanan, dari perilakuperilaku buruk, dari pikiranpikiran negatif, dari rasa sok pintarnya yang sesungguhnya belum apa-apa, dari belenggu-belenggu dogma, dan mengajaknya melihat keindahan dari apa yang diciptakan Tuhan. Dari semua itu,yang terpenting adalah bagaimana kita hidup dengan otak yang terbuka dan mengajarkan keterbukaan. Bukankah otak kita bekerjanya seperti parasut, yang artinya dia baru bisa dipakai kalau dia mengembang dan terbuka? Itulah yang saya ajukan selama ini kepada anak-anak didik saya dan terbukti mereka mampu menjadi orang-orang yang hebat. Itu pula yang saya sharing-kan kepada para guru dan dosen. Sebagian orang cepat mengubah diri, tapi sebagian pendidik lain tidak peduli dengan cara ini. Mereka tetap ingin mengajar dengan cara-cara dogmatik. Ingin dipuja tanpa argumentasi, tak mau mendengarkan, takut dibilang lembek, dan ingin diterima bak seorang ulama besar yang tak terbantahkan. Itulah hidup, tak semua orang mau berubah. Namun Anda tak perlu cemas. Orang-orang seperti itu sudah pernah menyurati saya dengan amarah berlembar-lembar. Mereka menembaki saya dengan ratusan peluru. Di antara suratsurat cinta mereka pun ada yang berisi ancaman, memperingatkan saya dan mengusir dari keguruan ini. Namun saya berkeyakinan, seorang pendidik sejati tak akan menyerah oleh ancaman-ancaman kosong. Dia tak berorientasi pada persaingan, melainkan pada masa depan anak-anaknya.

(*)  Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI

Budi dalam semangkuk nasi putih

Puluhan tahun lalu, ada sebuah rumah makan di daerah lama kota Taipei. Suatu hari, seorang pemuda bertanya pada pemilik rumah makan: “Maaf, bolehkah saya membeli semangkuk nasi putih?” Pemilik dan istrinya tidak merasa pembeliannya terlalu sedikit, tetap melayani dengan akrab, memenuhkan semangkuk nasi untuk diberikan padanya.

Pemuda ini melihat pada sisa sup dari tamu lain dan bertanya: “Bolehkah saya mengambil sisa sup ini?” Pemilik menjawab: “Boleh, tentu boleh.” Dia lalu menuangkan sisa sup ke atas nasi putih, setelah siap makan, pemuda ini kembali membeli semangkuk nasi untuk dibawa pulang.

 

Pemilik baik hati diam-diam membantu pelajar ini

 

Sejak saat itu, pemuda ini hampir setiap hari datang membeli semangkuk nasi putih. Setelah waktu cukup lama, mereka menjadi saling kenal baik, pemilik bertanya padanya: “Kamu tampaknya bukan orang setempat?” Dia menjawab: “Bukan, saya datang dari desa untuk bersekolah; harga barang di kota sangat mahal, saya harus hemat.” Pemilik tidak dapat menahan diri untuk bertanya: “Setiap hari sehabis makan, kamu membeli semangkuk nasi untuk dibawa pulang, untuk siapa makan?” Dia menjawab: “Itu adalah makan siangku besok.”

 

Sepasang suami istri pemilik ini merasakan kalau dia benar-benar anak yang hemat, bukan saja memiliki tekad untuk bersekolah, masih sanggup menahan diri untuk tidak terpengaruh di kota yang gemerlapan ini, sungguh pemuda yang mau kerja keras dan tahan susah, tanpa terasa timbul rasa sayangnya pada pemuda ini, kadangkala mereka sembunyi-sembunyi meletakkan sebutir telur atau sedikit sayuran di bawah nasi putih.

 

Sebelum tamat sekolah, pemuda ini secara khusus datang menemui sepasang suami istri ini untuk berterima ksih: “Terima kasih atas kebaikan kalian selama empat tahun ini, saya pasti akan tetap ingat akan budi kalian.”

 

Awalnya pemuda ini sering-sering mengirim surat untuk menanyakan kabar, setelah pergi dinas tentara, kembali dari dinas tentara sampai mendapatkan pekerjaan, kadangkala masih saja berkomunikasi; namun perlahan-lahan mulai jarang menulis surat, sepasang suami istri ini juga mulai melupakan pemuda ini.

 

Kemudian karena pemerintah ingin menata kota, melebarkan jalan dan membuka taman kota, maka daerah lama kota akan dipindahkan, termasuk di dalamnya adalah rumah makan kecil sepasang suami istri ini, lalu sesudah dibongkar mereka mau kemana?

 

Ketika mereka sedang galau memikirkan kelangsungan hidup, suatu hari datang seorang pemuda berpakaian rapi, dia mengeluarkan kartu nama dan menjelaskan maksud kedatangannya, ternyata pemuda ini adalah seorang asisten manajer umum dari sebuah perusahaan besar, khusus datang meminta mereka untuk membuka restoran di perusahaan mereka. Sepasang suami istri ini sangat gembira, namun juga merasa sangat penasaran.

Asisten ini menjelaskan: “Manajer Umum perusahaan kami pernah datang makan di sini, dia sangat suka pada masakan kalian, dia merasa para staf perusahaan juga akan suka.” Sepasang suami istri ini lalu ikut pergi ke perusahaannya, tanpa disangka Manajer Umum ternyata berdiri di depan pintu untuk menaymbut mereka dengan sikap sangat sopan.

 

Pemilik rumah makan merasa sepertinya mukanya sangat akrab. Manajer Umum mengatakan: “Pak, apakah sudah lupa pada saya?” Ternyata Manajer Umum ini dulunya adalah pemuda yang hanya membeli semangkuk nasi putih.

 

Ketika berikrar, kita harus menjaganya dengan teguh, seperti Manajer Umum ini, ketika muda pernah berada dalam kondisi miskin, namun dirinya tidak terpengaruh oleh lingkungan luar, dia bersekolah dengan sungguh-sungguh dan hidup hemat, akhirnya mampu mencapai keberhasilan dalam pekerjaan; lagi pula sesudah menerima bantuan orang, tetap terukir selama-lamanya di dalam hatinya dan segera membalas budi yang pernah diterima.

 

Sedangkan sepasang suami istri ini dapat mengembangkan hati cinta kasih mereka ketika orang lain sangat membutuhkannya, bukan saja tidak menganggapnya sebagai budi yang harus dibalas, malah dapat menjaga harga diri orang.

 

Di antara sesama sudah seharusnya saling membantu, membantu orang dengan perasaan suka cita dan tidak mengharapkan balasan, jika kita dapat menanam benih cinta ksih demikian, tentu akan mendapatkan buah cinta kasih yang sepadan. Maka ketika mampu, kita harus “membantu orang tanpa pamrih”, sedangkan yang menerima bantuan “tidak lupa membalas budi”, ini adalah moralitas yang semestinya dimiliki oleh setiap orang.

Sarapan pagi selama 5 tahun

Sarapan pagi selama 5 tahun (artikel tulisan dari seorang perawat rumah sakit)

Pada suatu pagi hari yang sibuk, sekitar jam setengah sembilan, ada seorang kakek berusia 80-an tahun datang untuk meminta bantuan dokter agar membukakan benang jahitan lukanya.

Dia terlihat sangat tergesa-gesa, namun dokter masih sibuk melakukan operasi pasien, maka dia terpaksa menunggu dan terus melihat pada jam tangannya, pada saat itu perawat ini tidak begitu sibuk, melihat kakek sangat terburu-buru, sedangkan diri sendiri ada lowong, maka dia memutuskan untuk membantu kakek membuka benang jahitannya.

Perawat meminta kakek duduk, kemudian membuka selapis demi selapis perbannya, sambil membuka perban sambil berbincang dengan kakek.

Perawat ini bertanya dengan perasaan ingin tahu: “Mengapa anda terlihat begitu terburu-buru?”

“Aku ada janji temu dengan orang pada jam 09.00, sungguh terasa kurang enak telah merepotkanmu”, jawab kakek.

Perawat berpikir dalam hati: Kakek berumur 80-an tahun tidak seharusnya masih bekerja, apa yang membuatnya begitu terburu-buru?

Kakek menjawab: “Aku terburu-buru hendak pergi ke panti rehabilitasi untuk menemani istriku sarapan pagi.”

Perawat semin merasa ingin tahu: “Oh! Ternyata istri anda masuk panti rehabilitasi, apakah dirinya baik-baik?”

Kakek menjawab: “T idak apa-apa, hanya menderita Parkinson dan sudah berlangsung cukup lama.”

Setelah selesai membuka benang jahitannya, perawat melihat pada jam tangan: “Wah! Anda akan terlambat, apakah tidak kuatir istri anda mencemaskan diri anda?”

Kakek menjawab: “Tidak akan, sebab selama 5 tahun ini, dia tidak mengenali aku lagi, sebetulnya aku pergi atau tidak, dia juga tidak tahu.”

Perawat kembali bertanya dengan perasaan ingin tahu: “Dia sudah tidak mengenalimu selama 5 tahun, mengapa anda tetap mengunjunginya setiap pagi?”

Kakek tersenyum lebar, sambil menepuk tangan perawat, dia berkata: “Dia tidak mengenaliku, tetapi aku masih mengenalinya, itu sudah cukup.”

Selanjutnya kakek membalikkan badan dan pergi meninggalkan perawat ini.

Perawat memandang pada bagian belakang tubuh kakek, tanpa tertahankan air matanya mengalir turun, dia berpikir dalam hati: Kasih sayang seperti inilah yang saya butuhkan.

Cinta sejati bukan pada raga luar, juga bukan hanya membicarakan tentang keromantisan; cinta sejati adalah menerima, menerima kondisi dulu dari pasangan kita, kondisi sekarang dari pasangan kita dan kondisi mendatang dari pasangan kita; tak peduli dirinya dulu bagaimana, sekarang bagaimana atau mendatang bagaimana, sebab orang berbahagia tidak pasti yang terbaik.

Orang berbahagia memandang segala sesuatu sebagai yang terbaik.